disini aja

Jumat, 09 September 2016

Kemana kita?

Bersambung

sekarang semua sudah mulai terlihat
kisahku belum lagi selesai 30 november 2011
membaca lagi postingan itu seperti flashback dan sejenak mengucap
syukur Alhamdulillah aku pernah melaluinya.
maka nikmat Tuhanmu mana yang kau dustakan

    kehidupanku di Makassar tidak berjalan mulus
sekolah terakhir yang hanya beberapa siswa tidak aku lanjutkan
aku mencari lagi sekolah lain yang lebih laik
satu semester aku lalui aku tetap berprestasi dengan ranking 1 dikelas
tapi hati berkata lain
keputusanku untuk kembali ke Cilegon, membuat hari hari ku di Makassar makin tidak karuan
selebihnya hanya basa basi
Desember 2009
masih jelas betapa anak 15 Tahun merayakan ulang tahunnya dengan rasa bimbang disekujur tubuh
2 minggu kemudian UAS semester 1, aku masih menunggak uang semester sekitar 4 bulan. Dengan rasa aneh menyelimuti, aku menjual velg motor bekas, hanya laku sepertiga dari tunggakan UAS itu, makin aneh lagi aku mengemis belas kasih sekolah agar aku tetap bisa masuk kelas. padahal aku mantap ingin keluar. Hari hariku makin aneh, aku makin akrab dengan teman teman dirumah yang lebih banyak menganggur, lebih banyak menghabiskan sisa uangnya untuk sesuatu yang tak pernah kusentuh sampai saat ini kupastikan itu. malam malamku makin penjang dengan perginya keluarga kakak aku ke jakarta dalam rangka pendidikan 4 bulan lamanya.
Beberapa pak kartu remi sisa semalam masih bergelatakan di teras rumah dinas ini, salah satu tetanggaku juga masih tergeletak tertidur pulasnya, masih jam 6 pagi, 2 jam yang lalu aku baru mulai tertidur. tapi pagi ini aku harus ke sekolah untuk UAS yang masih aku tak paham. hari ini makin panjang saat aku ditagih lagi biaya semester, aku hanya bilang aku tidak ada uang.
aku bukan orang yang bodoh, aku juga tidak mudah lagi jatuh setelah jatuh sejatuh jatuhnya kala itu. aku harus tetap mencari kebahagiaanku sendiri.Tahun baru 2010, aku sudah tidak punya uang lagi, aku kumpulkan beberapa teman teman kompleks, semuanya aku ajak iuran untuk membeli beberapa ekor ayam ikan dan jagung serta beberapa petasan, setidaknya malam ini aku makan enak, benakku. :).
minggu pertama 2010, sudah waktunya masuk sekolah. ka Adi kembali ke Makassar, aku merasakan angin segar berhembus.
aku benar benar masih ingat sangat ingat bagaimana salah satu wakil kepala sekolah mencegahku pindah sekolah. beliau sangat aku hormati sebagai guru juga sebagai orang tua sekolah. aku ingin menceritakan bagaimana beliau mengaggapku seperti anak sendiri bahkan dibandingkan dengan anak kandungnya sendiri, tapi keputusanku sudah final.
aku tetap keluar dari sekolah
perjalanan pulang terhambat karna kami sudah tidak punya uang lagi, dengan sedikit harapan, akhir januari setelah kakaku gajian aku dibelikan tiket pulang menggunakan kapal, ya kapal laut dari makassar ke jakarta.
hari kepulangan tiba, aku bergegas ke pelabuhan dengan barang bawaan sangat banyak. kami hanya mampu membeli tiket ekonomi. perjalanan akan memakan waktu 2 hari 2 malam, dalam kelas ekonomi kamu harus menjaga barangmu sendiri tanpa ruangan khusus semua tumplek jadi satu dengan penumpang lain. beruntung ternyata hari itu ada tim dari kodam wirabuana yang sedang mengirim senjata, dan perwira yang mengantar adalah teman kakaku yang juga berasal dari Cilegon. akhirnya aku diajak bersamanya ke ruang kelas bersama 6 tentara lain.
perjalanan ini sedikit melegakan akhirnya
sampai di Jakarta, barang bawaanku adalah 1 ransel dipunggung, 1 ransel di depan, satu dus tangan kanan, 1 dus tangan kiri masing2 lebih dari 8kg. diawal perjalanan aku masih kuat sampai pintu keluar, sampai akhirnya aku jatuh dalam arti sesungguhnya karna sudah tidak kuat lagi, ada kuli panggul, sisa uangku adalah 80 ribu. aku panggil salah satu dari mereka aku minta diantar ke terminal. dengan ongkos 25 ribu, deal. sampai terminal tanjung priuk tak ada satupun bis yang narik, terminal bis tanjung priuk hanya beroperasi sampai pukul 21 dan sekarang sudah pukul 23. sisa uangku 55 ribu, pilihanku tidak banyak, bis pertama besok adalah pukul 6 pagi. aku coba tawar menawar dengan tukang ojek, berharap dapat diantar ke tempat penyetopan bis terdekat, akhirnya mamng ojek setuju dengan ongkos 30 ribu, aku diantar ke mana entahlah aku tak tau jakarta kala itu.
sialnya mamang ojek itu minta nambah, akhirnya aku kasih 35 ribu. sisa uangku 20 ribu, duduk di bis menuju rumah benar benar terasa seperti tertidur dpangkuan ibu.
ongkos bis 18 ribu, malam ini benar benar panjang. pukul 2 pagi sampai dirumah.dijemput kakaku di pertigaan jalan, senang rasanya bertemu kalian.
bersambung..