disini aja

Rabu, 30 November 2011

susahnya cari sekolah

Last greeting

“plaaak….!!”
Tamparan maut lengan ayah yang mendarat tepat di kakiku, “nyamuk” katanya…
“heuuuh…”
Padahal tak jauh berbeda dari tamparan ayah ke maling kemaren malam.
Masih jam 2 malam, final liga champions antara tim kesayanganku, Barcelona melawan Inter Milan masih skor kacamata. Esok adalah hari keberangkatanku ke Makassar, tapi aku tak mau ketinggalan laga big match ini.
“go barca go barca go go go!!!”

“Alahmdulillah alhamdulillahiladzi ahyana ba’dama amataana wailaihi nussur”
Suara orang tarhim sudah terdengar dari masjid tak jauh dari tempat tinggalku. Mataku sudah merem melek, semalam aku tidur jam 4 pagi, karna asik menyaksikan pestaporia kemenangan Barcelona dalam laga sengit semalam. Tanpa dikomando bibirku langsung cengar-cengir dengan pandangan mata kosong kearah plafon kamarku. “hmm…hmm…tau g..? tau g..? hari adalah hari dimana aku pertama kali naik pesawat, yaa maklum saja karna saudaraku yang lain orang pribumi semua, asli wong banten”
Aku ke Makassar untuk meneruskan sekolah ku ke SMA disana bersama kaka sulungku. Rencananya sih ingin masuk SMAKMA (Sekolah Menengah Analis Kimia Makassar ). Yaitu sekolah kejuruan dibawah naungan dinas perindustrian, yang khusus bidang kimia. Berstatus negeri dan hanya ada 3 di Indonesia yaitu di SMAK Bogor, SMAK Padang, dan SMAK Makassar. Awalnya aku ingin masuk SMAKBO namun dilarang oleh orangtuaku dengan alasan tak ada saudara disana, jadi tak ada yang mengawasiku nantinya. Lalu kaka sulungku dimakassar memberitahuku, ada sekolah yang sama di Makassar, terang saja aku langsung berharap bisa masuk sana. Aku sangat ingin masuk SMAK karna prospek kerja yang sangat besar karna di kota Cilegon banyak perindustrian kimia, dan paynya lumayan. Di SMAK sekolah nya 4 tahun dan langsung mendapat D3.
Kamar mandi sudah berisik, padahal masih jam setengah 5, kalo hari-hari biasa sih jm segini paling hanya ada suara 3-4 tetes air yang menetes dari keran air tiap menitnya. Wajar saja semua keluargaku ikut menagantarku dan kakaku yang saat itu hendak pergi ke pulau sebrang. Pesawat take off jam sepuluh berdasarkan tiket yang kami beli kemarin. Perjalanan dari rumah ke bandara menghabiskan waktu sekitar 2 jam, jadi kurang lebih aku harus sudah stay di bandara sekitar pukul setengah Sembilan, biar bisa liat-liat dan keliling bandara, “hee maklumlah kami kan kampungan..!#$%^^&*”
Jadi kami harus berangkat sekitar jam 6 pagi dari rumah.
Kemarin adalah saat yang mengharuukan, saat dimana aku dan teman teman perpisahan. Pada malam perpisahan SMP aku dan kawan-kawan yang biasa kami sebut sebagai BOKER(Bocah Keren/Kere) ”heee” mengadakan makanmalam dengan menu lele bakar buatan kami sendiri. Acaranya cukup khidmat namun suasana jadi mencekam menyeramkan ketika ada salah seorang teman kami kerasukan makhluk halus dan bertingkah aneh, namun segera berlalu karna kami lengsung membawanya pulang. Dan acara panganganpun berjalan lancer lagi. Hari esoknya aku perpisahan dengan sang pacar sungguh suasana yang penuh dengan cinta dan isak tangis, kami terakhir bertemu di warnet langganan kami.
“ aku akan berangkat 2 hari lagi mungkin ini akan jadi yang terakhir, jaga cinta ini sampai aku kembali lagi, aku sayang kamu.. :) “ ucapku dengan nada haruu.
“ senyum dihatiku takan layu menunggumu walau mataku tak henti meneteskan airnya, aku bangga padamu kak.. kamu rela meninggalkan semua yang telah tersedia disini, untuk menggapai angan-anganmu” balas kekasihku dengan terisak isak menahan tangisnya.
Lalu kami menghabiskan waktu yang tersisa dengan jalan-jalan hangout dan lain-lain, sampai cahaya bulan memisahkan langkah kita. Dihari terakhir aku berada di Cilegon aku sempatkan diri bermain di SMP bertemu dengan teman-teman kelas, dan anak-anak penggalang yang saat itu akan berangkat kemah gudep.
Jam setengah 6 pagi semua sudah siap-siap dengan barang bawaanya, terutama aku dengan koper-koper besarku. Rumahku pai-[agi sudah terhiasi dengan tas-tas dan koper-koper besar. Perpisahan terakhir dengan sanak family pun terjadi pagi itu. Berat sekali membuka pintu mobil carteran ini “berat kenapa yaa? Mahal kali yaaa?? Heee”
“greeeeeng …….”
Gas pertama mobil yang dikendarai oleh om ku, meninggalkan pelataran rumahku. Pwehh terbayanglah semua yang akan kutinggalkan, dan apa yang aku lakukan disana.
“wkwkwkwk selingkuh indah kali yaaa?…, dialek orang Makassar aneh g yaaa?, orangnya kampungan g yaaa…?, yang pertama akan ku tuju pasti makanan, haha, coto coto..” gumamku
Ada ada saja, anak muda.
“bangun bangun bangun” tegur kakaku
Aku terbangun dan terlihat sudah sampai bandara. Tak terasa di mobil aku hanya sekitar 15 menit terjaga, dengan music mellow di telingaku aku tertidur pulas di mobil. Iini adalah kali ke3 ku menginjakan kakiku di bandara tepatnya di terminal 2, terminakl keberangkatan yang biasa melayani rute domestic. Sebelumnya aku ke bandara hanya untuk mengantar dan menjemput kaka sulungku itu, tapi sekarang akulah yang di antar.
“waaah serasa jadi artis…heee”hayal ku.
Sambil menunggu panggilan keberangkatanku aku dan keluarga menyempatkan diri untuk melihat-lihat bandara, maklumlah kami ke bandara tak sampai itungan jari satu tangan. Dari bagian atas bandara kami bisa melihat beberapa pesawat yang akan take off, dan yang baru landing. Diantara pesawat itu adalah pesawat yang akan ku naiki, yaitu pesawat lion air boeing 737-315. Jam tanganku sudah menunjukan pukul 8:15 WIB sudah saatnya aku cek in, akhirnya tiba saatnya merasakan pelukan terakhir ibuku, suasananya menjadi haruu kembali, ibuku dan semua keluarga yang ikut kala itu memberikan senyumnya untukku dan kakaku.
“nak jaga diri baik-baik yaa, jangan lupa sama agama, jangan nakal disana, nurut sama kakamu. Kalo ada apa-apa bilang jangan diem aja” salam ibuku
“iya bu. Aku akan selalu inget apa katamu.” Jawabku.
“kau juga ka, jaga ademu, jangan ngerepotin disana” tegur ibuku pada kakaku
“iyaaa buu.” Balas kakaku dengan simpel
Langkah aku dan kakaku sudah meninggalkan mba-mba yang memeriksa tiket kami, langkah kami terhalang di antrian metal detektor. Semua yang akan masuk ke terminal keberangkatan harus melewati metal detector dan semua hal-hal yang berbau elektronik harus dilepas seperti hp, mp3, mp4 dan lain sebagainya. Lalu aku tiba ditempat peletakan barang bawaan, kami berdiri mengantri di depan loket tujuan ujung pandang. Disini tiket kami diperiksa dan diberi nomor kursi dan diambil barang bawaannya untuk disimpan dibagasi, bagi barang bawaan yang melebihi 40 kg akan dikenakan over bagasi dan dikenakan biaya lagi.
“fiuuuhhh duitt muluu”
“pweeeh ribet banget yaaa mau masuk pesawat aja, pemeriksaan tiket aja 3X, metal detector 2X, dan manual 1X. kakaku aja kaya orang kampung, padahal mah iya, heee” benakku.
Sampai di lobby tempat menunggu untuk naik pesawat aku dan kakau sempat nyasar ke lobby tujuan ambon, disini terlalu banyak lobby kami sampai binggung mencarinya. Didalam lobby, tidak boleh merokok, kakaku yang perokok berat, terpaksa harus merokok diluar lobby. Tak lama kami menunggu pintu keluar lobby mulai terbuka tanda pesawat sudah siap untuk dinaiki. Hatiku mulai tak sabar menaiki burung besi raksasa ini, langkahku mulai sampai di yangga pesawat, panjang pesawat kurang lebih 20-40 meter dan tingginya sekitar 5 meter dan panjang sayap sekitar 5-10 meter. Aku duduk di kursi 15 A dan kakaku duduk disebelahku yaitu 15 B, bersebelahan dengan jendela sayap.
“wahh, sayapnya ko tambalan ya?.jadi kaya tompelan hee..” Tanyaku pada kakaku yang dari tadi sibuk dengan majalah yang disugguhkan di sofa.
“ngga tau.” Balas kakaku, yang lagi-lagi dengan jawaban simple.
Aku dan kakaku memang tak begitu akrab, kakaku yang ini orangnya galak dengan sifatnya yang kurang terbuka membuatku jarang berkomunikasi dengannya apalagi bercanda dengannya.
Mesin pesawat sudah dinyalakan dari sebelum kami naik pesawat ini, belum lama kami duduk seorang pramugari perempuan berdiri di sebelah sofa paling depan dan disebelah sofa kami, lalu mereka mulai casciscus dengan bahasa Indonesia dan inggris lengkap dengan peragaannya yang isinya tentang keamanan dalam pesawat dan tak lupa dipraktekannya cara menggunakan safety belt dan jaket pelampung.
“whessss …” pesawat mulai take off meninggalkan landasan bandara soekarno hatta. Turbulensinya terlalu kuat karna aku dekat dengan mesin pesawat yaitu dibagian sayap pesawat. Pengen muntah rasanya ..”uwwweeee”. mulai terlihat kota Jakarta dari langit, begitu indah dan terlihat betapa padatnya ibu kotaku ini. Diatas pesawat yang kulakukan hanya mendengarkan mp3 ku, yang kubeli dari uang sakuku sendiri, sedangkan kakaku hanya tiduran dan tiduran dan tiduran. Sekitar satu jam kami mengudara para pramugari membagikan makanan ringan berupa roti dan air mineral gelas, dan kami juga ditawari kopi serta teh. Sebenarnya kakaku memesan kopi, tapi entah tak terdengar atau apa, namun pramugari tak member pesanan kakaku tersebut. “ahemmm, malu deh akuuu, hahaha”
2 jam berlalu dalam pesawat, pemberitahuan bahwa akan landing mulai mendengung. Terlihat dijendela mulai terlihat daratan tanah celebes yang terlihat hijau tertutup awan. Daerah Sulawesi memang masih asri karna daerah perkotaan hanya ada di Makassar, sedangkan bandara hasanudin berada di luar Makassar, namun secara administrasi, bandara hasanuddin milik Makassar. Pesawat mulai landing di bandara hasanudin yang baru, yang tak lama ini baru diresmikan. Sedangkan bandara yang lama berada di bagian belakang bandara baru tersebut.
“kebelet pipisss,, dingin banget didalam pesawat..hee” ucapku dalam hati.
Kami sudah keluar dari pesawat bersama penumpang yang lain, kami kehilangan jejak penumpang yang lain, karna banyak penumpang yang hilir mudik di dalam bendara ini.
“kemana ka? “ tanyaku
“lah gak tau?”jawab kakaku
“tuh ad tanda exit?” balas ku lagi.
“yaudah kesana, aa juga mau kencing ni, toilet dimana?” jawab kakaku lagi.
“yaudah”balasku.
Ternyata pintu itu terkunci dan tertempel kertas pintu rusak, lalu kami melihat-lihat sekitar dan terlihat ada kerumunan orang dibagian bawah loby. Aku dan kakaku langsung menuju kesana, dan disana adalah tempat pengambilan barang bawaan. Kakaku langsung menelfon kaka sulungku, yang katanya dia sudah menunggu di tempat penjemputan. Kaka sulungku seorang anggota tentara angkatan darat berpangkat serda, dank ala itu kaka sulungku memakai naju dinas dan mobil dinas, jaadi diijinkan masuk bandara padahal kalo orang biasa, tidak boleh. Setelah mengambil koper dan beberapa tas serta kardus, tapi karna banyak banget kami berinisiatif untuk menyewa trolly.
“padahal mah, kita males bawanya, hahahaha” (dasar pemalas) celotehku.
Hemm mataku tertuu pada seorang bapa-bapa yang hampir tua dengan pakaian yang sama dengan kuli panggul yang lain dan mendorong sebuah trolly yang cukup besar. Aku langsung memberinya kode agar mendekat, lalu aku memintanya untuk membawakan barang bawaanku ditrollynya. Hanya beberapa meter kami berjalan dari pintu keluar kami melihat kaka sulungku itu dengan temannya, lalu kami mendekatinya den menurunkan barang bawaanku.
“hemm masa Cuma beberapa meter aja 50.000, dah ni 10.000 aja” ucapku pada bapa tua yang menyewakan trolly tadi.
“duhh kurang mas, saya juga bayar pajak disini.” Tanggap bapa itu.
“nih 10.000 lagi, dahh” terusku
“yaudah” jawabnya dengan sinis
“pweh parah paling Cuma 10 meter aja 50.000, kalo naik bis 50.000 bisa sampe bandung, cilegon serang aja Cuma 4.000, very very very expensive” aduku pada kaka sulungku.
“lagian kamu bego, segini aja nyewa trolly, hahaha”balas kaka sulungku
Aku dan kaka sulungku memang tergolong dekat, sifat kami mirip kata orang-orang begitu juga mukanya, hee.
“bla-bla-bla-bla-bla-bla” obrolan panjang lebar antara aku, kakaku dan kaka sulungku.
Tlah cukup puas kami bercakap-cakap, kami langsung menaiki mobil dan langsung cabut dari bandara. Asiik kaka sulungku mengajak kami keliling dulu. Aku diajak ke pantai losari dan melihat mal-mal yang ada disekitar Makassar.
“jangan mo ko, kaya orang kampong de, malu ji aku” suara kaka sulungku yang terdengar aneh dengan dialek Makassar.
“iye kang.?” Balasku dengan bahasa jawa.
Setelah cukup lama berputar putar aku sampai di asrama tempat kaka sulungku tinggak, yang akan awal dari kisah ceritaku di pulau Celebes pulaunya para pelaut ulung. Dirumah ini akan kuawali kisah ini, bersama:

Aku : Hardi Surya Pratama (Tama)
Kakaku : Erwin jamil (Erwin)
Kaka sulungku : Adi Haryadi (Adi)
Kaka iparku : Yeyen Apriyani (Yeyen)
Sepupu ipar : Ardiansyah Rahman (Dian )

Awalku di kota ini.

Malam pertama ku di Makassar, kurasakan hawa yang berbeda disini dibanding di Cilegon, terasa aga dingin tapi tak terlalu dingin. Di bale-bale kayu depan rumah berkumpul Aku, ka Ewin, dan ka Adi, serta pa RT yang ku tak tau namanya, dan tetangga yang belakangan ku tau namanya Ono. Kami sedang berbincang-bincang tentang daerah sini, kak Adi yang memperkenalkan kami pada mereka, ternyata mereka bukan orang Makassar asli, keluarga Ono berasal dari bandung, dan keluarga pak RT berasal dari jawa, Sedangkan om hadian yang baru saja bergabung dengan kami berasal dari Kalimantan, namun mengikuti pendidikan bintara di bandung bersama kakaku, jadi mukanya tak begitu asing karna dia pernah main kerumahku di Cilegon sana. Mereka semua ramah-ramah dengan kami yang baru datang. Setelah kami mengaru-aru laptop ka Adi dan melihat-lihat beberapa foto keluarga dan teman-temannya di cilegon, yang aku bawa dari mp3 ku. Pak RT mengajak kami maen kartu, maen joker namanya, aku dan ka Ewin tak mengerti cara mainnya, kami hanya menjadi penonton saja, aku sambil bermain laptop dan ka Ewin yang terlihat serius memerhatikan permainan kartu itu.
Tak terasa malam sudah semakin larut, ka Yeyen sudah menyuruhku tidur karna esok pagi aku akan pendaftaran ke SMAK. Kami tinggal di asrama yang tak begitu luas, hanya ada 2 kamar sedangkan kami ada ber5, hah sungguh amat sempit. Ya sudahlah.
Morning Makassar

Pagi ini aku sudah bangun jam 5, sambil membereskan barang bawaanku, setelah sholat subuh aku menyiapkan persyaratan untuk pendaftaran nanti. Jam setengah 6 semua yang ada dirumah sudah bangun. Tak biasanya kaEwin bisa bangun pagi dan sholat subuh, biasanya paling cepat bangun jam 10, itupun kalo dibangunkan.
Pagi ini sangat cerah, aku berharap akan secerah dan selancar pendaftaranku nanti. Jam 8 belum juga pas, ka Adi sudah mengajakku berangkat.
“ayo berangkat takut macet, di depan SMAK ada pembangunan jalan laying, pasti macet.” Ajak kakaku
“yaudah, nanti siap-siap dulu.” Balasku.
Hanya beberapa menit keluar dari komplek tempat kami tinggal, namanya komplek PALDAM VII/Wirabuana, pusat dari satuan Peralatan Daerah Militer di Sulawesi. Kami langsung menghadapi macet di sekitar pembangunan jembatan layang. Kampus SMAK brada tak jauh dari asrama, jadi kurang lebih hanya sekitar 15 menit jika tidak macet, namun karna macet, aku dan ka Adi sampai kampus SMAK sekitar 30 menit. Maklumlah jika macet, disekitar situ adalah daerah yang cukup padat dengan beberapa kantor dan kampus yang cukup ramai, diantaranya: kantor gubernur Sulawesi selatan, kampus UMI(universitas muslim Indonesia), kampus Universitas 45, kantor pajak Makassar, kantor Paldam, Markas Kodam VII/WRB, dan lain-lain.
Sampai di kampus SMAK sudah cukup ramai dengan orang-orang yang tujuannya sama denganku yaitu mendaftar. Kampus SMAK cukup besar dengan nama SMAK dan lambangnya yang hampir mirip dengan lambang dinas Perindustrian. Dparkiran, kami sudah di sambut dengan tukang parkir yang jua memberi tahu kami tempat pendaftarannya. Kami langsung menuju tempat pendaftaran, disana kami dilayani dengan baik. Pa guru yang menerima berkas pendaftaran kami, cukup kaget karna aku berasal dari jauh. Setelah mengisi beberapa beberapa formulir, aku diberi nomor tes yaitu nomor 401 dan ruangan 18, hemm lumayan.Test dilaksanainnya hari senin, sekarang masih hari jumat, berarti masih ada waktu buat seneng-seneng.
“hemmm ka? “ tegurku pada kaAdi yang saat itu baru menyalakan motornya.
“apa de?” balas kaAdi tanpa mengurangi konsentrasinya kemotornya.
“jalan-jalan dulu yuuu..yayaya?” suaraku sambil memasang muka melas.
“nanti malem aja, sekarang mah panass.”jawab kaAdi
“yaudahhh”jawabku aga kecewa.
Makassar memang sedang dilanda elnino kala itu jadi udara bias sangat panas dimalam hari dan dingin sekali dimalam hari.
Selepas maghrib kami makan malam bersama, ditengah suasana makan malam,aku sedikit menyinggung tentang janji ka Adi yang ingin mengajakku jalan-jalan. Setelah menghabiskan makananku ka Adi memintaku utuk bersiap-siap. Dengan celana jeans panjang dan jaket kotak kotak, aku berangkat mengarungi kota Makassar malam hari. Ditengah perjalanan ka Adi member tahu aku sedikit teknik bawa motor ngebut, hahaha sebenarnya aku rada ngeri tapi asik. Makassar memang kota besar semakin malam semakin asik. Laju motor kami terhenti karna di sekitar jalan menuju pantai losari aga sedikit macet, namun tak lama kami ditengah kemacetan ka Adi sudah berhasil menembus kemacetan ini. Dia pun memarkir motornya di tepian jalan, aku lekas saja turun dari motor dan menuju kerumunan orang di bibir pantai. Nama pantai losari terpampang besar membelakangi laut Makassar, tempat ini begitu ramai dengan orang orang yang sibuk dengan aktifitasny, mulai dari pacaran sampai mancing ada.
Cukup lama kami di sini, bercerita sambil melihat lihat. Jam sudah menunjukan pukul 10 malam, ka Adi mengajak ku kaliling lagi. Di tengah perjalanan dia menawari ku makan coto, hah padahal emang dia yang lapar hahaha diakan doyan makan. Di sebuah restoran, kami memesan 2 porsi coto Makassar, sekitar 3 menit pesanan kami sudah datang, 2 mangkuk coto panas dengan taburan bawang goring di atasnya. Makan coto paling enak dengan ketupat, yang memang sudah disediakan diatas meja. Ka Adi membei contoh cara makannya agar terasa nikmat, padahal aku bilang sama aja. Coto ini tersa sangat gurih dan segar, tak cukup rasanya satu porsi, setelah kami menghabiskan coto kami ia memesan dibungkus untuk ka Yeyen dan Ka Erwin dirumah. Mataku terasa perih ketika sampai dirumah, selepas sholat isya, aku langsung tertidur pulas di kasur kamar.
Nightmare comes

Tibalah waktu tes, hatiku cukup berdebar karna kupikir kurikulum antara cilegon dan Makassar berbeda. Suasana semakin membuatku berdebar katika aku sampai di kampus ini, banyak orang yang terlihat pintar aku semakin down, gejolak batinku mambuatku melupakan apa-apa yang telah kubaca semalam, langkahku makin mendekati ruang tes. Jam dinding ruang piket masih diantara angka 4 dan lima, masih ada waktu sekitar 5 menit untukku menenangkan pikiranku. Didalam kelas hanya aku yang terlihat diam, yang lain sibuk dengan urusannya dan temannya, sedangkan aku hanya berdiam dan berdiam.
“teeeeeeeeet” tanda bel masuk
Whusssssss, pikiranku masih kesana kemari tak menentu, tapi aku harus bisa. Cayooo tama…
Kertas soal sudah dibagikan, dengan sedikit doa, aku buka kertas soal ini, kulihat ada 60 soal yang terbagi antara bahasa Indonesia, bahasa Inggris, matematika dan ipa. Menit menit pertama berjalan begitu berat, apalagi ketika aku melihat ada soal logaritma yang sama sekali aku belum mengerti kala itu. Sekitar 2 setengah jam aku mengerjakan dan akhirnya selesai juga. Saatnya aku melegakan pikiran yang terasa sangat suntuk, langsung cabut menuju rumah. Dirumah ka Ewin sedang tidur di kamar tengah dan kaYeyen sedang mengobrol dengan tetangga. Kutanggalkan pakaianku dan langsung menuju PS di ruang depan, langsung deh main resident evil 4 sampe tamat tanpa mengenal waktu.
Setelah kemarin menjalani test masuk sekolah, sekarang tiba saatnya untuk melihat hasil test kemarin semoga mendapat hasil yang maksimal.(amiin). Aku mulai tak sabar melihat pengumuman ini, walau sebenarnya aku takut kabar buruk yang kudapat. Ketika datang pertama, kata penjaga disitu pengumuman masih satu jam lagi, hah bête dehh, mending pulang. Karna saking penasarannya dirumah pun aku tak begitu nyaman, hanya sebentar lalu aku pergi lagi kuputuskan untuk menunggu disana. Menunggu memang sangat menyebalkan persis seperti yang diungkapkan zhifilia. Setelah kurang lebih satu jam menunggu, akhirnya pengumumanpun dibagikan, dan……. Waw… 401 ada diurutan ke 4, thanks god,terima kasih ya Allah.
Hari minggu benar-benar ku nikmati untuk istirahat, karna esok senin akan sangat padat dengan berbagai test lanjutan. Tibalah hari senin dimana test pertama dimulai yaitu test kesehatan yang didalamnya terdapat test THT, mata, paru-paru, dan warna. Pagi ini aku berangkat didampingi ka yeyen, karna ada pertemuan orangtua wali juga. Tepat jam 8 pagi aku dan ka yeyen sudah ada di gedung SMAKMA, ka yeyen langsung menuju tempat pertemuan dan aku menuju tempat test kesehatan. Aku dapat nomor test 69 cukup lama karna itu baru nomor 20an. Ku habiskan waktu dengan berkeliling bakal calon sekolahku itu, cukup besar tapi tidak terlalu luas sekitar 50X50 meter namun gedungnya bertingkat semua jadi terlihat lebih besar, ada banyak sekali lab mulai dari lab kimianya sampai lab meniup kaca, wajar saja benakku ini sekolah kimia.
Sekitaran jam 9 pagi nomorku dipanggil panitia untuk bersiap-siap, aku mendekat dan didalam ruangan sudah terdapat banyak orang juga beberapa dokter yan nanti memeriksa kesehatanku. Namaku di panggil oleh dokter dan aku mendekat padanya akhirnya dokter mulai memeriksa paru-paruku, aku lolos karna aku bukan perokok tak seperti semua keluargaku yang semua laki lakinya perokok aktif, tapi aku sangat anti dengan batang satu itu. Giliranku periksa mata, aku diminta duduk dijarak sekitar 5-6 meter lalu disuruh menyebutkan huruf-huruf yang ditunjuk dokter pada selembar karton yang ditempel di tembok, alhamdulillah aku bisa menyebutkan semuanya. Aku mendekat lagi untuk test kesehatan lainnya yaitu THT(telinga, hhidung, tenggorokan), telinga, hidung dan tenggorokan ku pun diperiksa dokter, aga geli memang rasanya aneh. Tak begitu lama dan dokter menyuruhku untuk mendekat ke tempat test warna yang menjadi mimpi buruk nasa depanku. Dokter menyodorkanku buku yag sudah terbuka dengan banyak sekali warna mataku terasa lier aku bingung apa yang aku cari dari kertas itu, dokter memintaku menyebutkan angka-angka didalamnya tapi aku tak meliat apa-apa hanya kumpulan warna-warna yang membuatka lier, lagi-lagi dokter memintaku untuk menyebutkan angkanya tapi apa tak ada yang bisa kulihat. Aku bingung sekali dan akhirnya dokter memfonisku dengan, “ahh malas aku menyebutkannya”.hks hks hks……
Aku dan ka yeyen kembali ke asrama disana ka Adi sudah menunggu dia harap harap cemas karna sms yang aku kirim tak begitu ia mengerti. Sampai dirumah tanpa basa-basi ka yeyen bercerita semuanya secara gamblang didepan aku dan ka adi. Setelah mendengar cerita ka yeyen, ka adi serentak tak percaya dan terbingung-bingung karna dia sendiri tak mengidap kelainan itu. Lalu ia mengajakku untuk memeriksakn ke rumah sakit Phelamonia yaitu Rumah Sakit tentara yang ada di makassar. Dengan motor yang tadi kupakai ke sekolah, aku dan ka adi langsung ke RS, sanpai disana kita langsung ke recepsionist untuk daftar, namun sedang istirahat karna iu siang hari, tapi kata suster yang jaga langsung saja ke tempat pemeriksaan karna biasanya dokternya masih ada di tempat. Tak pikir panjang kami langsung berjalan menuju tempat pemeriksaan, disana ada dokter yang biasa memeriksa mata. Ka adi langsung bicara dengan dokter dan aku langsung di periksa dengan alat yang ujungnya mengeluarkan cahaya yang masuk kedalam mata, lalu aku juga di test dengan cara yang sama dengan yang di sekolah, dan dokterpun mendiagnosa bahwa aku benar-benar mengidap kelainan itu dan itu bukan penyakit yang tiba tiba ada tetapi keturunan yang biasanya diturunkan dari nenek. Perasaanku benar-benar tak karuan, aku hancur di tengah jalan, I’m loss.
Ternyata dokter yang memeriksaku mempuyai pengalaman yang sama dengan diriku tapi bedanya dia bukan kelainan sepertiku tetapi lebih kepada ketidak beruntungan masuk sekolah. Dia hampir putus asa kala itu dia bercerita kalau saat itu dia tidak beribadah 3 bulan saking merasa kalau dunia ini tdak adil, namun diawal awal bulan keempat, ia merasa ada sesuatu yang tak ia ketahui dan akhirnya Allah punya rencana lain atas apa yang ia dapatkan saat itu, kini ia menjadi tentara berpangkat mayor.
Tapi aku berbeda aku sama sekali belum menemukan arti apa-apa didalam rencana tuhan yang ini, hatiku sudah terlanjur hancur berkeping-keping dan tak mampu untuk memikirkan hal hal yang berkaitan dengan hati, mungkin lebih baik aku akhiri saja.
Hidup didalam tidur ?
Aku masih berharap ini semua mimpi, apa yang kuimpi impikan dari sebrang sana dan sudah sejauh ini dipaksa berakhir tanpa kesan manis sedikitpun. Aku bertanya pada yang kuasa diatas sana, inikah yang ingin KAU katakan untuk hancurkan hidupku.
Seminggu yang berat, banyak sekali kata-kata mutiara yang akhirnya basi ditelingaku. “ahh kenapa hidupku jadi seperti ini !!” kenapa semuanya jadi mimpi buruk setelah sejauh ini, aku hanya ingin punya masa depan yang indah dan orangtuaku tersenyum atas hal itu.
Aku tak boleh terus berkumat dalam kesedihan, itu kata ka adi yang tak merasakan apa yang kurasakan. Orang yang berhasil bangkit dari jatuhnya adalah orang yang sukses, itu kata teman ka adi. Dan masih banyak lagi nasehat-nasehat yang sebenarnya basi banget.
Setelah kemarin senua badanku lemas tak bertulang, kini aku harus mencari sekolah baruku pengganti di SMAKMA, di Makassar banyak sekali SMA baik negeri maupun swasta, setelah berkeiling kota ternyata semua sekolah negeri TUTUP, tak ada yang masih menerima satupun. 
karna tak mungkin aku menganggur sekolah setahun hanya untuk menunggu yang negeri. bebrapa atasan ka Adi menawariku jalan pintas harganya hanya sekitar lima jutaan, orang makassar biasa menyebutnya dengan letjend atau lewat jendela, besar harapanku ka Adi mau menerima tawaranku untuk menggunakan alternatif mahal tersebut, namun sekali lagi dia tak henti hentinya meneruskan cermah panjangnya, mungkin karna dia benar atau mungkin karna kami tak punya uang untuk membayar uang segitu.
pencarianku berlanjut
aku dan kaka iparku mencoba ke sekolah baruyaitu SMA 21 Makassar ,, disana sekolah masih baru dan belum terhitung 3 tahun, alias belum ada lulusan. ternyata disana juga sama PSB sudah ditutup. kami hanya bertamu dengan guru sekolah dan penjaga, ka yeyen sedikit berbincang bincang dengan guru itu, aku belum angkat bicara aku hanya mendengarkan celoteh mereka. saat kudengar test sudah ditutup dan akan diumumkan tanggal 5 juli esok. maka aku langsung bicara sedikit menantang. "pa saya siap di test ulang dengan soal yang bapa buat asal saya bisa sekolah pak, ?" 
bapa tadi hanya menjawab dengan muka santai "maap de, udah keputusan dinas, g bisa "
nyesegg memang kalau diingat ingat 2 minggu yang lalu, aku masih santai dengan hasil ujianku, dan menolak dengan santai sekolah yang banyak orang impikan.
waktu berlalu, kegalauanku tak kunjung henti, aku hanya pasrah. teman kakaku menawariku sekolah swasta yang (g enak nyebutnya) . aku terima saja karna aku memang sudah pasrah.
senin ini hari pertama masuk sekolah. dan sumpah!! kesan pertama masuk sekolah ini sangat amat agggh.. kalu ada istilah paling buruk, ingin aku luapkan sekarang juga. dikelas baru tersebut hanya ada 5 siswa, sungguh terlalu.
bersambung...